Jumat, 01 Oktober 2010

IBADAH PA KELOMPOK 1 BLOK 5

IBADAH PA KELOMPOK 1 BLOK 5
Menjadi Keluarga Sebagai Garam dan Terang Dunia


Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.
Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.
Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
(MATIUS 5: 13-16)

Injil Matius adalah satu di antara empat Injil Perjanjian Baru (PB). Injil secara tradisi dicetak dalam urutan dengan Matius terlebih dulu, disusul dengan Markus, Lukas dan Yohanes. Injil ini termasuk Injil sinoptis.
Kitab Matius mempunyai amanat tentang Kabar Baik bahwa Yesus adalah Raja Penyelamat yang dijanjikan oleh Tuhan, ini dapat terlihat melalui contoh Doa Bapa Kami. Melalui Kerajaan Allah inilah Yesus Kristus akan memulihkan kondisi Bumi dan kehidupan umat manusia. Oleh karena itu, hal inilah yang akan menjadi kesaksian bagi semua bangsa, barulah akhir sistem dunia ini berakhir . Melalui Yesus itulah Tuhan menepati apa yang telah dijanjikan-Nya di dalamPerjanjian Lama kepada umat-Nya. Sekalipun Yesus lahir dari orang Yahudi dan hidup sebagai orang Yahudi, namun Kabar Baik itu bukanlah hanya untuk bangsa Yahudi saja melainkan untuk seluruh dunia.
Penulis
Walaupun dokumen ini tidak mencantumkan nama penulisnya, namun kesaksian semua bapa gereja yang mula-mula (sejak kira-kira tahun 130 M menyatakan bahwa injil ini ditulis oleh Matius. Matius adalah seorang pemungut cukai (petugas pajak pada zaman itu) yang menjadi salah satu dari kedua belas rasulYesus.
Tujuan
Matius menulis Injil ini
1. untuk memberikan kepada sidang pembacanya kisah seorang saksi mata mengenai kehidupan Yesus,
2. untuk meyakinkan pembacanya bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Mesias yang dinubuatkan oleh nabi-nabi Perjanjian Lama, yang sudah lama dinantikan, dan
3. untuk menunjukkan bahwa Kerajaan Allah dinyatakan di dalam dan melalui Yesus Kristus dalam cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Matius ingin sekali agar pembacanya memahami bahwa:
1. hampir semua orang Israel menolak Yesus dan kerajaan-Nya. Mereka tidak mau percaya karena Ia datang sebagai Mesias yang rohani dan bukan sebagai Mesias yang politis (yang akan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi.
2. Hanya pada akhir zaman Yesus akan datang dalam kemuliaan-Nya sebagai Raja segala raja untuk menghakimi dan memerintah semua bangsa.

Ciri-ciri Injil Matius
Tujuh ciri utama menandai Injil ini:
1. Kitab ini merupakan Injil yang mencolok sifat ke-Yahudiannya.
2. Ajaran dan pelayanan Yesus di bidang penyembuhan dan pelepasan disajikan secara paling teratur. Karena hal ini, maka pada abad kedua gereja sudah mempergunakan Injil ini untuk membina orang yang baru bertobat.
3. Kelima ajaran utama berisi materi yang terluas di dalam keempat Injil yang mencatat pengajaran Yesus:
 selama pelayanan-Nya di Galilea dan
 mengenai hal-hal terakhir (eskatologi).
4. Injil ini secara khusus menyebutkan peristiwa dalam kehidupan Yesus sebagai penggenapan PL jauh lebih banyak daripada kitab lain di PB.
5. Kerajaan Sorga/Kerajaan Allah disebutkan dua kali lebih banyak daripada kitab lain di PB.
6. Matius menekankan:
 standar-standar kebenaran dari Kerajaan Allah (Mat 5-7)
 kuasa kerajaan itu atas dosa, penyakit, setan-setan, dan bahkan kematian; dan
 kejayaan kerajaan itu di masa depan dalam kemenangan yang mutlak pada akhir zaman.
7. Hanya Injil ini yang menyebutkan atau menubuatkan gereja sebagai suatu wadah yang menjadi milik Yesus di kemudian hari (Mat 16:18; Mat 18:17).
http://id.wikipedia.org/wiki/Injil_Matius
A. GARAM DUNIA
Jemaat yang kekasih dalam Yesus Kristus, saya terinspirasi untuk renungan ini dari refleksi bersama dan mudah-mudahan renungan ini kita dapat bersama-sama tidak hanya memahami secara intelektual, tetapi juga merasakan apa yang dimaksud Yesus dalam khotbahnya di bukit: "Kamu adalah garam dunia".

1. Kalau saya bayangkan situasi para pengikut Yesus yang mendengar khotbahnya pada waktu itu, saya yakin bahwa Yesus terutama ingin menguatkan pendengarnya. Bukan sebuah perintah: "Kamu harus menjadi garam dunia", tetapi: "Kamu ADALAH garam dunia". Garam pada waktu Yesus adalah sesuatu yang sangat penting dan bahkan yang sangat mahal. Garam pernah disebut "emas putih" karena menjadi alat pembayaran dalam perdagangan, dan dalam sejarah dunia bahkan ada perang yang pernah terjadi karena garam. Mungkin kita sudah lupa pentingnya garam itu, karena garam misalnya di pasar sentral cukup banyak dan murah. Tetapi saya tahu bahwa di Indonesia masih ada beberapa daerah yang masih ingat betapa penting dan berharga garam dalam kehidupan ekonomi dan sehari-hari masyarakat. Dan para ilmuwan tahu bahwa: tanpa garam tidak ada kehidupan, baik di laut maupun di darat.

"Kamu adalah garam dunia" - yang ingin dikatakan Yesus terutama adalah: Kamu sangatlah berharga. Kamu sangat penting. Kamu merasa bahwa sebutir garam itu tidak ada artinya dan tidak ada gunanya. Tetapi justru sebaliknya: di dalam butir ini tergandung salah satu sumber kehidupan. kita mungkin merasa tidak bisa berbuat apa-apa, karena kita hanya sedikit, kita merasa sebagai minoritas yang tidak berdaya. Tetapi dalam kita ada sebuah kekuatan yang bisa dirasakan dan bahkan dapat merubah dunia ini. Tanpa kamu, dunia ini akan tawar.

Yesus menguatkan muridnya. Bukan untuk menjadi sombong. Bukan untuk merasa bahwa hanya mereka yang dapat menyelamatkan dunia, dan hanya mereka yang memberi sebuah rasa yang penting. Masih banyak rempah yang lain di dunia ini yang juga sangat dibutuhkan. Namun identitas kami adalah menjadi garam dunia. Bukan dari kekuatan diri kita sendiri, bukan karena usaha dan jasa kita sendiri, namun karena kekuatan dan rasa yang diberikan kepada kita oleh Allah sendiri. Kita mungkin kecil seperti sebutir garam. Namun bersama-sama dengan butir-butir garam lain, kita dapat menjadi garam dunia, dan bukan kwantitas garam itu yang menjadi penting, tetapi kwalitas dari pelayanan kita sebagai garam dunia.

2. Ini membawa kita ke aspek kedua dari firman Yesus ini. Garam hanya ada gunanya jika dipakai! Pada waktu Yesus, garam jarang terdapat dalam bentuk yang murni, tetapi ada campuran dengan semacam kapur, yang membuat garam itu cepat rusak dan tawar kalau disimpan terlalu lama. Dan di dapur kami pun, kalau garamnya sudah terlalu lama, sudah menjadi basah atau keras dan tidak enak lagi dipakai. Garam, kalau disimpan, sama saja dengan dibuang dan diinjak orang! Garam haraus keluar dari tempat garam, harus dipakai untuk fungsinya, kalau tidak, untuk apa garam itu?

3. Untuk memahami aspek ketiga saya persiapkan sebuah eksperimen kemia yang singkat:
Kadang-kadang, sebagai orang Kristen, kita takut untuk bergaul dengan lingkungan kita, untuk berinteraksi dengan budaya setempat, dengan agam-agama lain, untuk terlibat dalam masalah-masalah duniawi, karena kita takut untuk kehilangan indentitas kita.

Dan memang dari garam ini kita belajar bahwa yang dituntut dari kita adalah mengorbankan sesuatu. Kita harus berani untuk mengorbankan diri kita sendiri, harus berani ditransformasikan dalam konteks di mana kita berada. Hanya kalau kita siap untuk ditransformasikan, kita akan juga mampu untuk mentransformasikan konteks kita dan dunia ini. Gereja harus berani untuk melayani tanpa mengutamakan kepentingannya sendiri. Yang penting pada akhirnya bukan garamnya, namun apakah dunia ini sudah mendapat rasa yang enak oleh garam yang sudah lalut di dalamnya!

Apakah dalam proses ini kita akan kehilangan identitas kita? Apakah berdialog dan bekerja sama dengan orang beragama lain, terlibat dalam pergumulan-pergumulan duniawi dan berinteraksi dengan budaya-budaya berarti kita akan kehilangan kekristenan kita? Sebaliknya! Seperti garam yang larut, namun tetap eksis meskipun dalam bentuk yang ditransformasikan, dan tetap menjadi asin, demikian juga kita sebagai orang Kristen. Bahkan, saya yakin, bahwa dalam proses transformasi ini kita baru akan menemukan identitas kita yang sebenarnya. Inilah kontradiksi eksistensi kekristenan: jika kita hanya ingin mempertahankan diri kita sendiri, kita akan kehilangan identitas kita. Jika kita berani untuk mengambil risiko pengorbanan dan perubahan, kita akan menemukan identitas kita yang sebenarnya dan kehidupan yang kekal.
http://www.oaseonline.org/artikel/garam.htm
B. TERANG DUNIA
KISAH 4 BUAH LILIN
Alkisah disebuah rumah yang dihuni seorang kakek terdapat empat buah lilin. yang disimpan didalam gudang. Pada satu waktu rumah kakek tersebut mati lampu dan dengan segera kakek tersebut ingat bahwa dia mempunyai persediaan lilin yang dapat digunakan, lalu kakek tersebut berjalan ke gudang tersebut untuk mengambil lilin lilin tersebut. Pada saat dia menyalakan lilin yang pertama dan dengan maksud hendak membawa lilin tersebut keruangan di depan, tiba - tiba dia mendengar sebuah suara berkata "Jangan ..jangan keluar.." Kakek tersebut bingung lalu berkata "Siapa itu ? siapa yang berbicara " suara itu menjawab "saya"..kakek tersebut berusaha mencari asal suara itu dan ternyata lilin tersebut yang berbicara dan di terkejut dengan hal tersebut, ketika ditatapnya lilin tersebut. Dilihatnya pada lilin tersebut terdapat sebuah wajah lalu ia berkata "ada, apa dengan kamu lilin",lilin itu menjawab "Jangan , jangan bawa saya keluar". Sambil keheranan kakek itu bertanya lagi "kenapa saya tidak boleh membawa kamu keluar ?".
Lilin itu menjelaskan bahwa dia belum siap untuk keluar karena takut dia belum siap untuk menerangi kegelapan yang ada di luar, dia takut jika nanti nyala api yang dia miliki itu tidak indah. Jawaban yang tidak masuk akal memang, namun itulah alasan yang dia keluarkan. namun kakek itu tetap memaksa dengan alasan bahwa keluarganya diluar sana sangat membutuhkan penerangan, namun lilin tersebut bersikeras untuk tetap tidak mau keluar. Akhirnya kakek itu menyerah dan berkata "Baiklah jika memang engkau tidak mau, saya akan mengambil LILIN yang lain, karena masih banyak lilin yang lain. Namun apa yang diharapkan si kakek ternyata berbeda dengan kenyataan yang ada karena lilin yang kedua juga menolak dengan alasan bahwa dia sedang sibuk dengan urusan yang lain yang menurutnya lebih penting. Hal yang sama juga terjadi dengan lilin yang ketiga dengan alasan bahwa dia tidak berani jika seorang diri karena takut cahaya yang dia miliki kurang terang. Akhirnya kakek tersebut beralih kepada lilin yang ke empat namun lilin yang ke empat ini berkata "saya sebenarnya mau diajak keluar, tapi saya tidak bisa karena talenta saya bukan disitu sebagai pemberi terang namun talenta saya adalah hanya sebagai pemberi semangat bagi lilin yang lilin untuk mau menyala dengan lebih lagi", bahwa apa yang dia bisa lakukan hanyalah menyanyi. Akhirnya lilin tersebut pun bernyanyi. Ketika lilin yang lain mendengar suara lilin keempat tersebut bernyanyi maka terbakarlah semangat mereka untuk melayani dan mereka pun bernyanyi bersama dengan paduan yang sangat merdu. Kawan, keempat lilin diatas gambaran dari sikap kita sebagai manusia didalam melayani Tuhan khususnya untuk menjadi terang ditengah kegelapan dunia dengan berbagai alasan, ketakutan dan kesibukan kita sendiri akhirnya kita lupa akan fungsi kita sebagai cahaya atau terang bagi dunia ini, bahkan disaat semangat kita menyala nyala untuk melayani namun itu akhirnya akan segera hilang akibat dari tidak adanya sesuatu atau seseorang yang dapat membuat kita melakukannya lagi seperti yang dilakukan oleh lilin ke empat. Seperti firman-Nya berkata bahwa kita adalah "TERANG DUNIA", yang bukan hanya sekedar menjadi terang namun terang yang memiliki empat aspek yang utama yaitu :

1. TERANG YANG AKTIF..
Bahwa untuk menjadi cahaya bagi dunia ini kita nggak bisa hanya menunggu orang lain datang kepada kita. karena segala sesuatu akan menjadi sangat terlambat.
2. TERANG YANG MENGARAHKAN.
Bahwa sebagai cahaya bukan kita yang sebagai pusat dari semua itu, namun tugas kita adalah untuk mengarahkan semua orang kepada Yesus sebagai pusat dari segalanya, pusat dari cahaya.
3. TERANG YANG MEMBERI PENUNJUK.
Bahwa sebagai cahaya, tugas kita adalah untuk menunjukan jalan yang benar kepada orang-orang yang berjalan di dalam kegelapan.. Menuju kepada jalan
keselamatan didalam Yesus Tuhan.
4. TERANG YANG INDAH.
Bahwa untuk menjadi cahaya tidak hanya cukup dengan nyala yang terangnamun juga indah. Namun dapat menjadi berkat bagi kehidupan orang lain

Tidak ada komentar: