Terima kasih Mas Udin
Saat masih kecil Rangga dalam keluarga selalu dianggap anak paling kecil, anak yang ga’ bisa apa apa. Dalam hidup sehari – hari yang dikenal adalah ejekan dari keluarga sendiri . Kejadian itu membuatnya selalu merasa sakit hati. Masa – masa kanak – kanak dia lebih senang untuk bermain dengan teman – teman seumuran dengan dirinya. Ia bersekolah didekat rumahnya. Dan setiap malam dia sering bermain ke tetangga kanan kiri. Dalam sehari – hari Rangga mampu menutupi kegundahan hatinya dengan kecerian dan senyuman yang selalu ia tampakan dalam bergaul.
Di suatu malam, saat ia bermain di tentangga sebelah rumah ia bertemu dengan sosok pria yang sangat tampan dan berwibawa. Dan lelaki tersebut memberikan balasan senyuman pada Rangga yang saat itu masih berusia 5 tahun. Akhirnya laki – laki yang bernama Udin itu menyapa Rangga dengan senyuman yang sangat ceriah. Mereka akhirnya saling berkenalan. Bagi Udin, Rangga adalah sosok anak kecil yang sangat manis dan ceria. Lagi pula ia juga merindukan anak kecil dan hidupnya. Karena dulu ia punya adik yang mirip dengan Rangga namun sebulan yang lalu telah meninggal karena kecelakaan.
Lama kelamaan mereka berdua begitu sangat akrab, dan Udin begitu memanjakanya. Karena dia sudah menganggap angga seperti adik kandungnya sendiri. Semua kasih sayangnya dicurahkan penuh untuk Rangga. Namun sayang mereka tak bisa bertemu setiap hari, karena Udin bekerja di sebuah perusahaan yang ada di Bali yang membuatnya harus pulang pergi selama 2 minggu sekali Tapi setiap kali bertemu Udin mencurahkan seluruh kasih sayangnya untuk Rangga.
Setiap apapun masalah yang dialami Rangga, Rangga selalu cerita dengan Mas Udin kebanggaannya. Demikian juga dengan permasalahan yang Rangga alami didalam rumahnya. Sehingga Rangga merasa nyaman untuk mencurahkan semua isi hatinya kepada Udin, walaupun usia mereka terpaut sangat jauh, selisih umur mereka sekitar 20 tahun.
Hidup Rangga mulai sedikit lebih ceriah, karena ada seorang malaikat yang selalu didekatnya. Walaupun mereka harus 2 minggu sekali bertemu. Dan merekapun saling merindukan untuk segera bertemu. Mereka berdua bagaikan dua insan yang tidak dapat terpisahkan, mereka sangat akrab dan sangat dekat dan Rangga pun makin merasa nyaman untuk mencurahkan isi hatinya dan membuat hatinya semakin tenang dan tegar untuk berdiri.
Persahabatan mereka berdua berlangsung hingga Rangga memasuki kelas 1 SD. Perhatian Udin kepada Rangga masih sangat besar dan tidak berkurang satu-pun. Bahkan Udin selalu memberik Rangga support untuk terus giat belajar.
Hal tersebut bisa terbukti, saat Rangga awal masuk di kelas yang baru dan suasana yang baru. Rangga amat sangat bersemangat dalam belajar.
Masih seperti biasa mereka bertemu setiap dua minggu sekali namun pertemuan itu sangat berarti buat Rangga dan Udin. Dalam setiap pertemuan yang hanya singkat mereka bisa memanfaatkan dengan baik. Sehingga pertemuan mereka sangat berkualitas. Karena pertemuan mereka hanya Sabtu dan minggu saja. Sedangkan setiap senin pagi Udin sudah harus balik ke Bali karena keluarga dan kuliah Udin ada di Bali.
Berkat Support yang diberikan Udin kepada Rangga, hingga Rangga di akhir caturwulan yang pertama mendapatkan nilai yang terbaik dikelas dan menjadi jawara di kelas. Udin pun juga merasa ikut bahagia melihat adik kesayangan mampu mengukir prestasi yang sangat gemilang dan menakjubkan dan Rangga bisa menjadi kebanggan orang tuanya.
Kejadian ini terus berulang hingga, di akhir kenaikan kelas satu menuju ke kelas dua. Karena Support yang tak pernah putus dan berkurang sedikit pun. Rangga masih mampu mengukir prestasi yang sangat gemilang. Hal tersebut tidak hanya terjadi pada Rangga, melainkan juga pada kehidupan Udin yang dimana kuliahnya semakin bersemangat dan kerjaannya semakin sukses. Karena ia semangat jika sudah melihat adik kesayangannya itu.
Suatu ketika saat Udin berada di Bali, dalam perjalanan menuju rumahnya dengan tiba – tiba kepalanya merasa sangat sakit dan membuat semua yang dilihatnya berputar. Tiba – tiba ia terjatuh, semua orang yang berada disekitarnya berlari dan menolongnya. Serta membawa dirinya ke rumah sakit. Saat berada di rumah sakit, dokter menyarankan dirinya untuk di rontgen karena dokter mendiaqnosa ada penyakit yang lain.
Hasil dari diagnose tersebut, Udi dinyatakan menderita kanker otak yang sudah stadium 3 dan satu – satunya jalan agar bisa sembuh dia harus dioperasi namun resiko jika gagal operasi tersebut dia akan hilang ingatan atau mati. Hati Udin bagaikan tersambar petir di siang bolong. Semua keluarga menyarankan agar dirinya untuk segera dioperasi. Namun ia sangat menolak, karena dalam hatinya ia takut kehilangan semuanya, termasuk kenangan indah bersama Rangga adik kesayangannya. Hal tersebut benar – benar membuatnya merasa terpukul dan hancur hatinya. Namun dirinya mampu menutup semuanya itu saat bertemu dengan adik kesayangannya.
Di malam sabtu yang sangat cerah ceria, Udin pergi ke Surabaya untuk mengunjungi adik kesayangannya. Pertemuan ini seperti biasa yang dilakukannya setiap dua minggu sekali. Tapi ini Udin memberi sedikit kejutan pada Rangga. Dengan tiba – tiba di dating ke rumah Rangga dengan membawa bingkisan yang cukup besar dan cantik. Kemudian, ia menekan bel yang ada di pinggir rumah Rangga. Ternyata Rangga sendiri yang membuka pintu tersebut . Rangga sangat terkejut, dan sangat senang sahabatnya dating dan membawakan hadiah untuknya. Namun berbeda dengan Udin, Udin benar – benar menahan agar air matanya tidak jatuh saat bersama Rangga.
Kemudian Udin, mengajaknya keluar untuk jalan – jalan sejenak. Udin sungguh terhibur dengan melihat adik kesayangannya bahagia. Udin tak bisa membayangkan kalau cepat atau lambat semuanya akan berubah. Seiring penyakit yang terus menggerogoti hidupnya.
Malam sabtu yang mereka lalui berdua sangat indah, bahkan lebih indah dari malam – malam sebelumnya. Mereka pergi menyusuri jalan berdua dengan penuh kasih persahabatan yang amat sangat hangat sekali. Mereka berdua semakin akrab dan semakin mengenal satu sama yang lain. Namun di tengah – tengah perjalanan mereka, tiba – tiba Udin mengucapkan “Rangga, seandainya, suatu saat nanti aku harus pergi karena ada tugas dan kerjaan kamu gimana?”. Perkataan itu membuat Rangga sangat terkejut, dan berkata “Memang mas Udin mau kemana? Mau pergi jauh? Kemana Mas? Berapa Lama? Pasti kembalikan mas?”. Jawab Udin “Waduh pertanyaan kamu kok kayak kereta yang ga ada putusnya. Yach itu masih jikalau, seandainya. Aku sendiri kan juga belum tahu”. Sahut Rangga “Mas, Kalau aku boleh mengajukan permintaan sama Tuhan, aku ingin ga pernah jauh dari mas”. Udin semakin terharu dan berat hatinya.
Sepulang dari Surabaya, dalam perjalanan menuju Bali, Udin tak henti – hentinya memikirkan perkataan yang keluar dari seorang anak kecil yang sangat di sayanginya dan sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri. Hingga ia tak tahan menetes air mata ke pipinya. Dalam hatinya berkata “Oh Tuhan, kenapa semua ini Engkau hadapkan padaku? Apakah ini memang jalan yang harus aku lalui? Bagaimana dengan Rangga yang sangat menyayangiku? Jikalau memang ini semua harus terjadi dan aku harus menghadapmu kembali, aku mohon agar Rangga bisa menemukan pengganti diriku yang bisa menyayanginya dengan sepenuh hati. Tuhan, aku serahkan semuanya padaMu, baik hidupku maupun matiku. Amin”
Keadaan seperti ini berlangsung selama tiga tahun dan Udin mampu melewati masa sakitnya selama tiga tahun. Namun Udin berusaha untuk bertahan demi sahabat kecil yang dicintainya yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri. Dan ia juga berusaha untuk selalu merahasiakan penyakitnya pada sahabat kecilnya itu.
Karena rasa sayang dan cintanya pada Rangga, sahabat yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri, ia mencoba untuk melawan penyakit yang telah tumbuh dalam tubuhnya. Senyuman demi senyuman terus diberikan dengan tulus kepada Sahabat kecilnya itu.
Beberapa bulan kemudian, di malam yang sangat dingin dan sunyi. Tiba – tiba telephone di rumah Rangga bordering. Kemudian langkah kecil Rangga berlari menuju suara telephone tersebut. “Hallo, mau cari sapa?” Sahut Rangga. “ Rangga, ini mas Udin. Bagaimana kabar kamu?” Jawab Udin dari balik Telephone. “Oh mas Udin, Rangga baik – baik aja. Mas Udin sendiri Bagaimana? Kayaknya mask ok Sedih?” balas Rangga. “Kamu masih belum berubah ya, pertanyaan kamu masih panjang seperti kereta. Mas Udin baik – baik aja” Jawab Udin lagi. Rangga kembali bertanya “ Tapi, suara mas kedengaran sedih sekali? Ada apa mas?”. “Kalau mas bilang Rangga ga boleh sedih ya, Rangga harus tegar, Rangga kan anak cowok jadi ga boleh nangis” Jawab Udin. “Ada apa mas?” Rangga kembali bertanya. Jawab Udin“ Mas Udin be… be….besok harus pergi jauh”. Sahut Rangga “Mau kemana mas? Berapa lama?”. Balas Udin “ Mas juga tidak tahu berapa lama, pokoknya jauh banget. Pesan dari mas, kamu harus jadi anak yang berguna bagi sekeliling kamu. Kamu harus semakin giat belajar. Dan yakinlah kamu akan memiliki banyak sahabat yang akan menyayangi dan mencintai kamu”. “Mas, mas di sana hati – hati ya. Jangan lupakan Rangga ya Mas. Semoga suatu saat nanti kita bertemu kembali” Jawab Rangga. “Iya, Mas juga akan selalu berdoa buat kamu” Jawab terakhir Udin.
Selang beberapa hari, dering telephone kembali berbunyi. Rangga kembali berlari, ia berharap Mas Udin yang telephone. “Hallo!!”Sahut Rangga. “Ya hallo, apa saya bisa bicara dengan Adik Rangga?” Jawab suara dari balik telephone. Jawab Rangga “Ya, saya sendiri. Ini sapa?”. “Saya kakak dari Udin. Saya cumin mau kasih kabar kalau Mas Udin meninggal” Balas lelaki tersebut. “Apa meninggal, ga mungkin...ga mungkin, soalnya kemarin dia masih telephone aku” Jawab Rangga. “Iya, kemarin waktu telephone kamu aku ada, sebenarnya ada penyakit yang dia rahasiakan selama ini. Dia sakit kanker stadium tiga. Dia juga pesan kamu ga boleh nangis, kamu harus kuat dan tabah” Balas lelaki tersebut.
Dengan berita tersebut Rangga sangat sedih dan merasa kehilangan. Walaupun semua orang meyakinkan kalau Mas Udin kesayangannya sudah meninggal, namun dalam hati Rangga masih meyakini kalau Mas Udin masih hidup dan belum meninggal. Tapi Rangga juga mengingat pesan dari Mas Udin kalau Rangga harus menjadi anak yang kuat dan tegar ga boleh sedih.
Itulah kisah sahabat Rangga yang pertama. Dalam buku harian Rangga menulis sebuah puisi yang diciptakan untuk mas Udin sebagai tanda ucapan terima kasih yang tulus dari Rangga :
Terima Kasih Mas Udin
Dari awal aku mengenalmu
Kau bimbing aku dengan penuh kasih sayang
Sayang yang kau berikan akan selalu hidup di hatiku
Walaupun kini kau jauh
Entah Kau berada dimana
Kau masih hidup dalam hati ini
Sampai kapanpun
Dirimu masih hidup dalam hatiku
Aku hanya bisa berdoa
Semoga Tuhan selalu ada
Bersamamu dan AKu
Selamanya.
Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar